Tugas Mata Kuliah Komputer tanggal 16 Desember 2010

JAWABAN PERTANYAAN NOMOR 3

carilah tulisan, artikel atau jurnal yang bercerita tentang mahzab frankfrut / frankfrut school.

Sekolah Frankfrut (die Frankfruter Schule) pada mulanya adalah forum diskusi sekelompok sarjana Jerman. Sekolah Frankfrut ini dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai Madzhab Frankfrut karena berhasil mengeluarkan serangkaian teori filsafat sosial yang menarik minat banyak ahli filsafat dunia untuk mengkajinya. Salah satu filsafat sosial yang berhasil dikeluarkan oleh madzhab ini adalah terori kritis atau biasa disebut dengan teori kritik masyarakat.

  • · Max Horkheimer dan Teori Kritis

Sekolah Frankfrut mencapai era keemasan ketika pada 1930. Max Horkheimer ditunjuk sebagai direktur. Horkheimer sendiri adalah tokoh pendiri yang menetapkan paradigma dasar Madzhab Frankfurt dalam melakukan kritik epistemologi terhadap peradaban industrial.Ho rkheimer, mencoba membuat pembedaan tegas antara rasional dengan rasionalisasi. Rasional adalah sesuatu yang berdasar pertimbangan akal sehat dan layak dipercaya sebagai sesuatu yang masuk akal. Sedangkan rasionalisasi adalah upaya manipulatif yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu seolah-olah masuk akal. Upaya rasionalisasi ini menjadi tren ketika August Comte dengan positivisme mulai memperkenalkan pendekatan kuantitatif untuk menjelaskan suatu realita. Statistik kemudian dianggap cukup mewakili untuk menjelaskan realitas itu. Buntut dari pendekatan Comte ini mendorong semua negara untuk menjelaskan kondisi negaranya dengan angka. Segalanya kemudian dijelaskan dengan angka prosentase, mulai kemiskinan, pengangguran, kematian ibu melahirkan, pendidikan, kelahiran, kesehatan, dan sebagainya.

Pendekatan seperti inilah yang coba dikritisi oleh Horkheimer karena dianggap sangat tidak manusiawi. Menjadikan manusia seperti kelereng, kemudian dikelompokkan menurut warna, selanjutnya dimasukkan pada kotak masing-masing. Bahkan, di dalam kesadaran kita pun, secara tidak sengaja telah terkontaminasi oleh cara pikir Comte itu. Ketika kita mendengar ada suatu bencana, pertanyaan pertama yang kita ajukan adalah berapa korbannya? Kemudian kita akan mencoba membandingkannya dengan angka korban dari bencana lain. Dari hasil perbandingan ini, kita mengambil simpulan. Angka selanjutnya menjadi topik menarik untuk dibicarakan. Memiliki data dalam wujud angka, terkadang dijadikan ukuran untuk mengkaji kadar intelektual seseorang.

Kematian tragis satu orang akan kita pahami sebagai tragedi. Namun, kematian tragis ratusan atau ribuan orang, ironisnya, hanya akan kita pahami sebagai statistik. Demikianlah cara berpikir kebanyakan dari kita saat ini. Kehadiran teori kritis memang bertujuan untuk mengkritisi cara berpikir yang kuantitatif seperti ini. Sekaligus, untuk mengungkap dan membuktikan bahwa rasionalisasi sangat sarat dengan kebohongan.

  • Aplikasi Teori Kritis

Pada mulanya, teori kritis harus menaruh kecurigaan terhadap suatu “pernyataan” yang dimaksudkan untuk menjelaskan keadaan realitas tertentu. Bahwa, “pernyataan” itu tidak benar dan tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Metode ini disebut falsifikasi, kebalikan dari verifikasi. Falsifikasi mencoba membuktikan kesalahan suatu asumsi, sedangkan verifikasi mencoba mencari faktor pembenar dari suatu asumsi. Secara sederhana, perbedaan antara kedua pendekatan ini bolehlah disebut demikian. Bagaimana aplikasi kedua pendekatan ini? Contoh, seorang presiden suatu negara berpidato dan menyatakan bahwa dia telah berhasil menekan angka kemiskinan di negaranya. Selanjutnya, dia menunjukkan bukti angka dari 35 prosen ke 30 prosen. Pendekatan verifikasi akan mencoba menguji kebenaran pernyataan itu dengan menggunakan basis logika berikut parameter yang sama. Sementara itu, falsifikasi justru akan mengkritisi basis logika dan parameter yang dipergunakan karena hasil suatu statistik sangat bergantung pada parameter yang digunakan dalam menentukan variabel, kriteria, dan indikator. Perubahan pada parameter ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil dari suatu simpulan statistik. Misalnya, kriteria kemiskinan didasarkan pada faktor pengeluaran perkapita, sebutlah 150 ribu rupiah per bulan. Melihat hal itu, falsifikasi akan menanyakan dasarnya apa. Apakah dengan pengeluaran yang sedikit di atas jumlah itu, misalnya 200 ribu, seseorang sudah bisa hidup layak secara nyata, dan boleh dibilang tidak miskin lagi? Kalau ternyata belum, kriterianya harus dinaikkan dengan konsekuensi hasil statistiknya pun akan berubah dan jadi lebih besar. Selain itu, falsifikasi bisa memeriksa aspek ekonomi-politik negara itu. Dia boleh melakukan analisis terhadap politik anggaran yang ditetapkan negara atau mengaitkan dengan posisi utang luar negerinya.

Sumber : http://www.anneahira.com/filsafat-sosial.htm

Mazhab Frankfurt ialah sebuah nama yang diberikan kepada kelompok filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt, Jerman, dan pemikir-pemikir lainnya yang dipengaruhi oleh mereka. Tahun yang dianggap sebagai tahun kemulaian Mazhab Frankfurt ini adalah tahun 1930, ketika Max Horkheimer diangkat sebagai direktur lembaga riset sosial tersebut. Beberapa filsuf terkenal yang dianggap sebagai anggota Mazhab Frankfurt ini antara lain Theodor Adorno, Walter Benjamin, dan Jürgen Habermas. Perlu diingat bahwa para pemikir ini tidak pernah mendefinisikan diri mereka sendiri di dalam sebuah kelompok atau ‘mazhab’, dan bahwa penamaan ini diberikan secara retrospektif. Walaupun kebanyakan dari mereka memiliki sebuah ketertarikan intelektual dengan pemikiran neo-Marxisme dan kritik terhadap budaya (yang di kemudian hari memengaruhi munculnya bidang ilmu Studi Budaya), masing-masing pemikir mengaplikasikan kedua hal ini dengan cara-cara dan terhadap subyek kajian yang berbeda.Ketertarikan Mazhab Frankfurt terhadap pemikiran Karl MarxMarxisme oleh kebanyakan orang lain, yang mereka anggap merupakan pandangan sempit terhadap pandangan asli Karl Marx. Menurut mereka, pandangan sempit ini tidak mampu memberikan ‘jawaban’ terhadap situasi mereka pada saat itu di Jerman. Setelah Perang Dunia Pertama dan disebabkan antara lain oleh ketidakpuasan mereka terhadap penggunaan teori-teori meningkatnya kekuatan politik Nazi, Jerman yang ada pada saat itu sangatlah berbeda dengan Jerman yang dialami Karl Marx. Sehingga jelaslah bagi para pemikir Mazhab Frankfurt bahwa Marxisme harus dimodifikasi untuk bisa menjawab tantangan zaman.

Patut dicatat bahwa beberapa pemikir utama Mahzab Frankfurt beragama Yahudi, dan terutama di perioda awal secara langsung menjadi korban Fasisme Nazi. Yang paling tragis ialah kematian Walter Benjamin, yang dicurigai melakukan bunuh diri setelah isi perpustakaannya disita oleh tentara Nazi. Beberapa yang lainnya, seperti Theodor Adorno dan Max Horkheimer terpaksa melarikan diri ke negara lain, terutama Amerika Serikat. Contoh karya-karya terkenal yang dihasilkan para pemikir Mazhab Frankfurt antara lain Dialectic of Enlightenment, Minima Moralia, Illuminations.

·        Sejarah Mazhab Frankfurt

Mazhab Frankfurt mengumpulkan para pembangkang Marxis, para kritikus keras kapitalisme yang percaya bahwa beberapa orang yang dianggap sebagai pengikut Marx telah membeo, menirukan beberapa cuplikan sempit dari gagasan-gagasan Marx, biasanya dalam membela partai-partai komunis atau Sosial-Demokrat ortodoks. Mereka khususnya dipengaruhi oleh kegagaln revolusi kaum pekerja di Eropa Barat setelah Perang Dunia I dan oleh bangkitnya Nazisme di negara yang secara ekonomi, teknologi, dan budaya maju (Jerman). Karena itu mereka merasa harus memilih bagian-bagian mana dari pemikiran-pemikiran Marx yang dapat menolong untuk memperjelas kondisi-kondisi yang Marx sendiri tidak pernah lihat. Mereka meminjam dari mazhab-mazhab pemikiran lain yang mengisi apa yang dianggap kurang dari Marx. Max Weber memberikan pengaruh yang besar, seperti halnya juga Sigmund Freud (seperti dalam kasus sintesis Freudo-Marxis oleh Herbert Marcuse dalam karyanya tahun 1954, Eros and Civilization). Penekanan mereka terhadap komponen “Kritis” dari teori sangat banyak meminjam dari upaya mereka untuk mengatasi batas-batas dari positivisme, materialisme yang kasar, dan fenomenologi dengan kembali kepada filsafat kritis Kant dan penerus-penerusnya dalam idealisme Jerman, khususnya filsafat Hegel, dengan penekanannya pada negasi dan kontradiksi sebagai bagian yang inheren dari realitas. Sebuah pengaruh penting juga dating dari penerbitan Manuskrip Ekonomi-Filsafat dan Ideologi Jerman karya Marx tahun 1930-an yang memperlihatkan kesinambungan dengan Hegelianisme yang mendasari pemikiran-pemikiran Marx: Marcuse adalah salah satu orang yang pertama mengartikulasikan signifikansi teoretis dari teks-teks ini.

·        Fase Pertama

Institut membuat sumbangan-sumbangan penting dalam dua bidang yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan subyek manusia yang rasional, yaitu individu-individu yang dapat bertindak secara rasional untuk bertanggung jawab atas masyarakat dan sejarah mereka sendiri. Yang pertama terdiri atas fenomena sosial yang sebelumnya dianggap dalam Marxisme sebagai bagian dari “superstruktur” atau sebagai ideologi: struktur-struktur kepribadian, keluarga dan otoritas (penerbitan bukunya yang pertama diberi judul Studi tentang Otoritas dan Keluarga), dan ranah estetika dan budaya massa. Studi-studi ini juga melihat kepedulian bersama di sini dalam kemampuan kapitalisme untuk menghancurkan prakondisi-prakondisi Kritis, kesadaran revolusioner. Ini berarti tiba pada kesadaran canggih tentang dimensi kedalaman di mana penindasan sosial mempertahankan dirinya sendiri. Ini juga merupakan awal dari pengakuan teori Kritis terhadap ideologi sebagai bagian dari dasar-dasar struktur sosial. Institut ini dan berbagai pihak yang ikut bekerja sama dengannya mempunyai dampak yang hebat terhadap ilmu sosial (khususnya Amerika) melalui karya mereka The Authoritarian Personality (“Kepribadian yang Otoriter”), which melakukan penelitian empirik yang luas, dengan menggunakan kategori-kategori sosiologis dan psikoanalisis, untuk menggambarkan kekuatan-kekuatan yang mendorong individu untuk berafiliasi dengan atau mendukung gerakan-gerakan atau partai-partai fasis.

· Para pemikir dan pakar utama Mazhab Frankfurt

Kritikus terkemuka terhadap Mazhab Frankfurt

Rujukan

  • Martin Jay. The Dialectical Imagination: A History of the Frankfurt School and the Institute for Social Research 1923-1950. Berkeley, University of California Press, 1996. ISBN 0-520-20423-9.
  • Rolf Wiggershaus. The Frankfurt School: Its History, Theories and Political Significance. Cambridge, Mass.: The MIT Press, 1995. ISBN 0-262-73113-4.
  • Jeremy J. Shapiro, “The Critical Theory of Frankfurt”, Times Literary Supplement, Oct. 4, 1974, No. 3,787. (Bahan-bahan untuk penerbitan ini telah digunakan atau diadaptasi untuk artikel ini, dengan izin.)

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab_Frankfurt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: