SOSIOLOGI

Analisa Kasus konflik menggunakan pendekatan konstruksi sosial.

Data diperoleh dari : internet dan buku dengan judul : Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer

Oleh : Agus Maryadi (D 0307018)

Tinjauan Sejarah

Dalam memainkan aksi politiknya sewaktu masa penjajahan di Indonesia belanda membuat suatu segregasi terhadap penduduk Hindia Belanda kedalam empat golongan : kelas bangsa Eropa, kelas bangsa pribumi beragama Kristen, kelas kelas bangsa Timur Asing dan Pribumi non-Kristen, telah menyebabkan luka yang sangat mendalam dalam benak warga Muslim Indonesia khususnya di Ambon, sementara saat tersebut warga Kristen hidup dengan relatif lebih baik karena perlakukan yang “agak” istimewa oleh penjajah Belanda Hukum alam berlaku, melalui suatu penderitaan berkepanjangan yang diderita sebagaian warga Muslim ternyata secara tidak langsung menyebabkan warga muslim lebih mampu untuk bertahan hidup sebagai pedagang, ditambah dengan dorongan dari pedagang pendatang Muslim dari sekitar Maluku telah menyebabkan mereka semakin survive dari waktu ke waktu.Dunia berputar, ketika penjajahan hengkang dari bumi pertiwi dimulailah suatu babak baru hubungan warga Muslim dan Kristen, kebijakan yang dijalankan rejim Soeharto dianggap oleh warga Kristen telah memarjinalkan posisi mereka—suatu anggapan yang menurut saya keliru, oleh karena warga Muslim telah memetik buah dari perjuangan mereka yang sangat sulit dimasa lalu dengan melahirkan pedagang dan para intelektual yang relatif lebih banyak—baik dalam ekonomi maupun posisi mereka dalam pemerintahan. Perbedaan-perbedaan ini telah menyulut kebencian diantara warga Kristen terhadap warga Islam yang teredam selama rejim orde baru berkuasa.Perbedaan-perbedaan tersebut oleh pemerintah orde baru dieliminasi melalui pendekatan keamanan (security approach) yang sangat berlebihan, setiap kali terjadi ketegangan langsung diredam dan orang-orang yang dianggap penggerak terjadinya konflik dikenakan sanksi yang berat, demikianlah seterusnya keadaan ini terjadi selama kurang lebih tiga puluh tahun. Benih-benih permusuhan terpendam, yang tampak di permukaan adalah kehidupan antar penduduk yang harmonis, yang saling harga menghargai—setidak-tidaknya menurut penguasa pada waktu itu.

Bentrok antar agama yaitu Muslim dan Kristen di Ambon dan di wilayah lain di Kepulauan Maluku yang pecah pada tanggal 19 Januari 1999 sebenarnya tidak ada dan sudah berakhir. Namun dampaknya telah menyebabkan ribuan orang meninggal dan ribuan lainnya terluka atau menjadi pengungsi belum terhitung pula kerugian harta benda. Kota Ambon dan Maluku Tengah sampai dengan saat ini dapat dikatakan masih semu, karena bentrok atau konflik sewaktu-waktu masih akan dapat meledak kembali.

Penjabaran konteks dan sumber konflik

Di Ambon telah terjadi konflik yang disertai kekerasan pada tahun 1999 – 2002 yang disebabkan oleh banyak factor dan intinya di mulai dari konflik interpersonal yang meluas menjadi konflik politik, etnis religious, ekonomi dan lain lain. Pada runtuhnya pemerintahan soeharto atau tepatnya jatuhnya rezim orde baru pada saat itu. Telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai bentuk stabilitas keamanan. Berbagai gejolak muncul baik perbedaan perbedaan kepentingan antar kelompok atau konflik kepentingan kelompok. Gejolak ini muncul karena belum siapnya system demokrasi yang diharapkan. Banyak terjadi kerusuhan dan kekerasan yang dilatar belakangi oleh berbagai motif. Salah satunya konflik dan kekerasan di Ambon Maluku.

Pada level desa ditemukan komunitas komunitas yang berdomisili di wilayah tersebut. Komunitas tersebut adalah komunitas islam dan komunitas Kristen ( kampung islam dan kampong Kristen ). Fakta seperti ini muncul sebagai wujud segregasi social di wilayah tersebut, penduduk yang beragama Kristen lebih mendominasi. Karena, jumlah penduduk yang beragama Kristen lebih banyak dari pada penduduk yang beragama islam. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan seiring bertambahnya jumlah penduduk yang beragama islam yang dating dari luar ambon.

Secara administrative system pemerintahan di ambon terbagi menjadi dua yaitu wilayah kota madya Ambon ( kurang lebih 40%) dan yang kedua ikut wilayah maliku tengah. Pada wilayah kota madya Ambon di dominasi oleh penduduk yang beragama Kristen, sedangkan diluar kota ambon di huni mayoritas oleh kalangan islam. Pada intinya telah terjadi ketimpangan social di antara dua wilayah tersebut yang secara substansi ditunjukan dengan berbagai indicator yaitu di wilayah kota madya ambon yang di huni oleh mayoritas kalangan Kristen, memiliki banyak fasilitas/ kemudahan dalam segala akses, rumah berlistrik, menggunakan Air PAM. Sedangkan di pinggiran atau luar kota ambon yang di huni oleh mayoritas kalangan islam sangat jauh dari fasilitas daerah dan kemudahan dalam akses.

Pihak dan Isu Konflik

Konflik yang terjadi di Ambon Maluku banyak actor yang terlibat atau actor tersebut dapat di identifikasi antara lain :

1. komunitas Islam Ambon

2. Laskar Jihad

3. komunitas Kristen

4. FKM/RMS (Front Kedaulatan Maluku/Republik Maluku Selatan

5. LSM kemanusiaan

6. aparat keamanan (TNI/Polisi),

7. provokator danelite-elite dari kedua komunitas agama

Tabel Dimensi Isu

Dimensi Isu Komunitas Islam Komunitas Kristen
Pekerjaan/ekonomi Muslim disisihkan daribirokrasi Islamisasi Birokrasi,Penganakemasan Etnis BBM Muslim dalam Usaha Dagang
Politik Separatisme RMS, mengurangi jumlah pemilih partai Islam Penerapan Piagam Jakarta
Keagamaan Oikumene, dominasi simbol-simbol agama Kristen di Kota Ambon, kebebasan praktik beragama ditekan Fundamentalisme dan Radikalism Islam Nasional
Pendidikan Dianaktirikan Pemerintah Gerakan Islamisasi

Dalam table di atas dapat dijelaskan mengenai dimensi isu isu yang telah ada yang akibatnya dapat mempertajam perbedaan, memperluas konflik di antara kedua kelompok agama yang dalam isu tersebut memuat berbagai dimensi klasifikasi baik dari segi pekerjaan, politik, keagamaan, pendidikan. Semua komponentersebut memiliki makna isu oleh dua kelompok agama yang disinyalir dapat merugikan dua kelompok yang saling merasa dirugikan

Muncul isu bahwa Republik Maluku Selatan (RMS) harus berdiri dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat) yang di munculkan oleh FKM. FKM itu sendiri sebenarnya fungsinya adalah mendamaikan konflik yang terjadi. Laskar Jihad secara organisasional adalah organisasi sukarelawan muslim dari komunitas salafy di bawah payung Forum Komunikasi ahlusunah waljama’ah yang didirikan di Yogyakarta. Organisasi secara formal memiliki kegiatan sosial dalam masyarakat konflik seperti bantuan kesehatan dan pendidikan untuk warga muslim. Namun pada gilirannya Laskar Jihad terlibat dalam kontestasi wacana melalui isu anti-RMS. Aparat keamanan, TNI/POLRI, secara kelembagaan tidak memberi banyak pertanyaan. Mereka menilai ada provokasi yang tidak terlihat di balik konflik kekerasan Ambon Maluku. Beberapa kalangan sempat menilai di internal aparat keamanan terjadi friksi berdasar keamanan tidak efektif menanggulangi krisis keamanan di Ambon .Elite politik di tingkat nasional dan lokal ikut bermain dalam konflik kekerasan di Ambon Maluku. Beberapa yang dianggap terlibat misalnya, mantan wali kota Ambon sendiri, Dicky Wattimena, yang merupakan pensiunan TNI .Walaupun demikian setiap komunitas mempunyai perbedaan persepsi mengenai siapa elite politik yang ikut terlibat dalam konflik kekerasan ini. Dari pihak Kristen menuduh Thamrin Ely yang merupakan ketua satgas MUI, kemudian Rusydi Hassanusi ketua MUI Maluku yang juga merupakan perwira di Polda Maluku. Komunitas Islam melihat tokoh-tokoh gereja seperti Sammy Titaley yang merupakan ketua GPM dan juga Dicky Wattimena mantan Wali kota Ambon Isu-isu dalam konflik kekerasan Ambon Maluku mengalami perkembangan yang sangat cepat. Menurut Coser (1957) konflik yang realistis bisa berubah menjadi konflik nonrealistis. Hal ini ditandai oleh berkembangnya isu konflik, tidak adanya kepastian aspirasi kedua belah pihak dan kecenderungan perilaku bermusuhan (hostile behavior) yang mengental. Isu-isu yang tumbuh dan menyebar bagaikan epidemik yang begitu cepat merasuk ke dalam kesadaran masyarakat berkonflik di Ambon. Dalam situasi konflik kekerasan yang diikuti frustasi, isu terus direproduksi sedemikian cepat.

Para kelompok dari kalangan Kristen telah mensinyalir konflik dan kekerasan di Ambon adalah sebagai wujud penggolongan atau diskriminasi para politikus islam di masa orde baru. Dapat dikatakan demikian karena islam di nilai melakukan usaha pemyingkiran terhadap komunitas Kristen yang ber ada di Ambon Isu Islamisasi dan diskriminasi birokrat Ambon beragama Islam terhadap etnis warga Ambon Kristen menjadi perbincangan sehari-hari di kalangan komunitas Kristen. Komunitas Kristen berpandangan bahwa tragedi 19 Januari 1999 adalah awal konflik kekerasan di Ambon. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kondtruksi wacana yang terbangun dalam komunitas tersebut. “Pengacara gereja menuduh bahwa kerusuhan 19 Januari 1999 merupakan rekayasa Islam, dimana hari itu merupakan waktu yang tepat untuk menarik simpati dan memancing emosional umat Islam se Indonesia dan dunia pada umumnya seakan-akan umat Kristen adalah pelaku yang paling biadab, paling bersalah dan paling bertanggung jawab dalam kerusuhan itu Sebaliknya komunitas Islam, laskar Jihad, dan berbagai organisasi Islam tidak membenarkan adanya diskriminasi terhadap komunitas Kristen. Sebaliknya melihat kecenderungan dominasi simbol kristen di Kota Ambon sebagai bentuk bukti dari adanya gerakan oikumene (Kristenisasi), dan penguasaan struktur politik daerah oleh komunitas Kristen. Selain itu, ‘Komunitas Islam menafsirkan kejadian-kejadian yang mengawal konflik sebelum 19 Januari 1999 adalah suatu desain yang melibatkan kekuatan politik separatis. Seperti pada kerusuhan di Air Bak dan Dobo yang menimbulkan korban orang-orang Islam, meletus pada 14 Januari, adalah awal bagi kerusuhan 19 Januari 1999. Kerusuhan di Dobo dan Air Bak merupakan konspirasi. Kalangan Islam percaya bahwa kerusuhan itu hanyalah untuk mengalihkan kekuatan militer dari kota Ambon ke Dobo sehingga pada hari kerusuhan di Ambon militer hanya sedikit pada hari kerusuhan di Ambon militer hanya sedikit dan tidak mampu menghalangi aksi kekerasan Kristen” Komunitas Islam mengambil referensi dari sejarah kolonialisme dan proses Kristenisasi masa itu, pertikaian atau konflik kerajaan-kerajaan Islam dengan Belanda yang ditefsirkan sebagai konflik agama, dan antagonisme politik RMS yang menciptakan perang antarkomuninitas beragama pasca kolonial Belanda. Sedangkan komunitas Kristen mengacupada ketidakadilan dan islamisasi masa Orde Baru. Seperti tebel dimensi berikut ini:

DAFTAR PUSTAKA

Susan, Novri. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. Kencana : Jakarta.

RITZER, George. 2009. Teori Sosiologi Modern. Kencana : Jakarta.

www.google.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: